Simpel BCM adalah sebuah platform cerdas berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk mendukung penerapan Business Continuity Management System (BCMS) secara lebih praktis, cepat, dan efektif.
Dengan integrasi teknologi AI, Simpel BCM mampu membantu organisasi dalam:
Business Impact Analysis (BIA): mengidentifikasi proses bisnis kritikal dan dampaknya.
Risk & Threat Assessment (RTA): memetakan risiko serta potensi ancaman yang dapat mengganggu operasional.
Disaster Recovery Plan (DRP): menyusun strategi pemulihan pascabencana agar layanan tetap berjalan.
Business Continuity Plan (BCP): merancang rencana kesinambungan bisnis yang adaptif dan terukur.
Preparedness & Crisis Management: meningkatkan kesiapan organisasi dalam menghadapi dan merespons krisis secara tepat.
Simpel BCM tidak hanya menjadi tools, tetapi juga partner strategis bagi perusahaan dalam membangun resiliency, memastikan keberlangsungan layanan, serta menjaga kepercayaan pelanggan dan stakeholder di setiap kondisi.
ISO 22301 Business Continuity Management (BCM) memberikan arahan bagaimana sebuah organisasi atau perusahaan untuk merencanakan proses bisnisnya dengan mempertimbangkan risiko-risiko yang mungkin terjadi dan mempersiapkan disi untuk risiko tersebut agar perusahaan tetap berjalan pada masa disrupsi dan pasca disrupsi tersebut. Setidaknya perusahaan harus mampu mengidentifikasi keadaan disrupsi dan kondisi yang dapat ditoleransi oleh perusahaan terhadap pelanggan.
ISO 22301 Business Continuity Management (BCM) merupakan standar yang memberikan arahan bagi perusahaan untuk menyiapkan usaha-usaha agar bisnis tetap beroperasi kembali pada kondisi yang dapat diterima setelah terjadinya insiden disrupsi.
BIA adalah Analisis yang dilakukan terhadap proses bisnis inti yang dapat memberi pengaruhi terhadap kegiatan bisnis perusahaan.
RA adalah Penilaian yang dilakukan untuk mengklasifikasikan risiko-risiko yang timbul dari hasil Business Impact Analysis (BIA).
Business Continuity Strategy (BC Strategy) adalah Strategi yang dipilih oleh perusahaan saat disrupsi terjadi. Strategi tersebut memberikan arahan agar bisnis perusahaan dapat tetap dijalankan dalam kondisi yang dapat diterima oleh pelanggan atau mitra kerja.
Rencana yang ditetapkan secara sistematis sebagai respons dari kejadian disrupsi yang diidentifikasi. Berikut beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan untuk membuat BCP:
1. Emergency Respons Plan(ERP)
Dokumen rencana tanggap darurat yang dapat ditentukan oleh perusahaan dengan tujuan membantu perusahaan agar tidak ada yang terdampak terhadap disrupsi.
2. Crisis Management Plan(CMP)
Dokumen rencana koordinasi awal serta komunikasi yang perlu dilakukan saat terjadinya insiden disrupsi.
3. Disaster Recovery Plan(DRP)
Dokumen yang memberikan gambaran rencana pemulihan pasca disrupsi, khususnya di bidang IT, yang berisi mekanisme failover dan failback, serta rincian sistem, infrastruktur, topologi, dan hardware pada DRC.
4. Post Incident Plan(PIP)
Dokumen rencana kegiatan pasca disrupsi yang berisi mekanisme restorasi dan normalisasi.
Penerapan Business Continuity Management sangat memberi manfaat bagi organisasi untuk mempersiapkan disinya dalam menghadapi disrupsi dan tetap bertahan pasca disrupsi terjadi. Diantara manfaat tersebut antara lain adalah:
1. Meningkatkan ketahanan perusahaan
2. Melindungi aset perusahaan
3. Meningkatkan reputasi perusahaan
4. Memastikan pencapaian sasaran perusahaan
5. Membudayakan peningkatan berkelanjutan pada perusahaan
Informasi ini Berasal dari data API BMKG sehingga koneksi transfer datanya realtime.
Dapatkan informasi lain seputar BCM.